Mi’raj Jiwa di Malam Keagungan

Rofik Dwi Saputra
Siswa MTsN 3 Kulon Progo

Ketika kelam memeluk sunyi
Dan rembulan menjadi saksi bisu,
Terciptalah keheningan agung
Yang memutus bising dunia fana.

Dari Baitullah yang suci,
Di bumi yang menunduk pasrah,
Satu jiwa terpilih memulai safar
Menembus cakrawala.

Melangkah di atas Buraq,
Secepat kilat menyambar kalbu,
Rasul mengunjungi para utusan terdahulu
Dalam zikir abadi.

Setiap singgah adalah salam
Fan setiap pertemuan adalah restu,
Menyusuri jejak kenabian
Yang termaktub dalam kitab suci.

Langit terbentang laksana permadani,
Tujuh lapis rahasia pun terkuak.
Sidratul Muntaha, batas akal dan pandangan,
Menjadi gerbang cahaya.

Di sana tak ada suara
Selain keagungan dan tak ada rupa selain asma-Nya;
Sang hamba berdiri menghadap Rabb-Nya
Dalam keheningan sempurna.

Di hadirat yang tak terbayangkan,
Anugerah terbesar dilimpahkan:
Salat, mi’raj bagi setiap mukmin
Dan penghubung jiwa kepada Sang Khaliq.

Lima waktu sujud dan rukuk
Menjadi bekal kehidupan,
Agar hati yang gundah menemukan damai
Dalam rengkuhan Ilahi.

Pesan itu terus mengalir dalam denyut nadi umat,
Bukan sekadar kisah malam,
Melainkan peta jalan menuju keabadian
Pengingat bahwa raga berpijak di bumi,
Sementara jiwa merindu Yang Maha Tinggi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *