38 Calon Pengantin KUA Wates Antusias Ikuti Bimwin, Siapkan Keluarga Sakinah

Kulon Progo (KUA Wates) — Kantor Urusan Agama (KUA) Wates kembali menggelar kegiatan Bimbingan Perkawinan (Binwin) bagi calon pengantin pada Rabu (29/4/2026) pagi di Balai Nikah kantor setempat. Kegiatan yang diikuti 38 peserta ini berlangsung dengan konsep interaktif, dan komunikatif, sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh para calon pengantin.
Kepala KUA Wates, Marjuki, S.H.I., M.S.I., dalam materinya menyampaikan pentingnya memahami psikologi keluarga sebagai pondasi dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Menurutnya, keluarga yang kuat tidak hanya dibangun atas dasar cinta, tetapi juga pemahaman, kedewasaan emosi, dan kemampuan menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga.
“Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi menyatukan dua karakter, dua kebiasaan, dan dua latar belakang yang berbeda. Karena itu, pasangan suami istri harus memahami psikologi keluarga agar mampu membangun rumah tangga yang sakinah dan menghadirkan kemaslahatan dalam keluarga,” ujar Marjuki.
Materi kedua disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Wates, Shofwati, S.Ag., dengan tema Memenuhi Kebutuhan Keluarga. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan keluarga tidak hanya terbatas pada kebutuhan fisik dan materiil, seperti sandang, pangan, papan, dan ekonomi, tetapi juga mencakup kebutuhan nonfisik dan nonmateriil, seperti kasih sayang, perhatian, rasa aman, penghargaan, serta dukungan emosional antaranggota keluarga.
Sementara itu, materi ketiga disampaikan oleh Penghulu KUA Wates, Burhanudin, S.H., dengan tema Menyiapkan Generasi Berkualitas. Ia menekankan bahwa orang tua memiliki peran strategis dalam membentuk generasi masa depan yang unggul, berakhlak, dan berdaya saing.

Burhanudin menjelaskan bahwa pola pengasuhan anak harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat Islam. Orang tua dituntut mampu menjadi teladan, pendidik, sekaligus sahabat bagi anak-anaknya. Pengasuhan yang baik tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik anak, tetapi juga pembinaan akhlak, pembiasaan ibadah, penguatan karakter, serta pendampingan emosional dan sosial.
Ia juga mengingatkan bahwa menjadi orang tua adalah proses belajar sepanjang hayat. Karena itu, orang tua tidak boleh berhenti belajar agar mampu memahami perkembangan anak dan tantangan zaman, termasuk pengaruh teknologi, media digital, serta perubahan sosial yang semakin kompleks. (rar/dpj)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!