Tangga Cahaya di Bulan Juni

Reyvan Qizanu Adriansyah
Siswa MTsN 5 Kulon Progo

Pada Juni yang dulu pernah bergetar,
Seorang bapak bangsa merangkai fajar.
Bukan dari emas, bukan dari mutiara,
Tapi dari lima kata, ia bangun negara.

Satu: Di atas sajadah, di bawah salib yang sunyi,
Di antara dupa dan lonceng yang berbunyi,
Kita tunduk pada Yang Esa, berbeda sembahyang,
Namun tetap sedarah dalam cinta yang sama panjang.

Dua: Ia ajarkan kita mengeja manusia,
Bukan dari pangkat, suku, atau rupa.
Adil ialah ketika air mata seorang ibu,
Sama berharganya di Merauke dan di Kudus.

Tiga: Dari riak Sabang sampai ombak Papua,
Ia jahit pulau-pulau dengan benang yang satu nama.
Bhinneka bukan perpecahan, ia simfoni,
Yang indah justru karena nadanya beraneka warni.

Empat: Di balai desa, di ruang parlemen,
Suara lirih petani sama kudusnya dengan pidato menteri.
Musyawarah ialah ketika telinga lebih lebar dari mulut,
Dan keputusan lahir bukan dari kuasa, tapi dari nurut hati.

Lima: Agar tak ada lumbung yang penuh tapi dapur seorang janda kelabu,
Agar jalan ke sekolah tak lagi berlumpur di ujung pulau,
Keadilan ia tulis bukan dengan tinta, tapi dengan janji,
Bahwa Indonesia rumah untuk semua, bukan hanya yang tinggi.

Maka setiap 1 Juni, kita tak sekadar mengenang,
Kita menyalakan kembali obor yang dulu diterbangkan.
Pancasila bukan baris di dinding kelas yang sunyi,
Ia nafas, ia darah, ia arah yang kita jalani.

Sebab bangsa yang besar,
Adalah bangsa yang ingat dari mana ia berpijar.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *