“Kita Semua adalah Santri”, Pengajian Kapanewon Nanggulan Teguhkan Semangat Pelopor Kebaikan

Kulon Progo (KUA Nanggulan) — Pengajian aparatur pemerintah dan masyarakat tingkat Kapanewon Nanggulan digelar di halaman UPTD Puskesmas Nanggulan pada Rabu (14/10/2026). Kegiatan yang dirangkaikan dengan peresmian musala tersebut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon (Forkompimkap), unsur Polsek dan Koramil, KUA Nanggulan, tokoh organisasi, serta masyarakat.
Pengajian kali ini terasa istimewa karena berlangsung menjelang peringatan Hari Santri Nasional dan bertepatan dengan momen menjelang purna tugas Kepala UPTD Puskesmas Nanggulan, drg. Wira Utami Pratiwi. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus bentuk penghargaan atas pengabdian selama menjalankan tugas.
Panewu Nanggulan, Drs. Sri Wahyuniarto, M.A., dalam sambutannya mengapresiasi penyelenggaraan pengajian dan peresmian musala Puskesmas Nanggulan. Menurutnya, keberadaan musala menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan spiritual dapat berjalan beriringan.

Memasuki acara inti, tausiah disampaikan oleh H. Mulyono, S.H.I., M.H.I. Ia menguraikan empat pesan tentang peran santri di tengah masyarakat, yaitu menjadi pelopor kebaikan, menghadirkan lingkungan yang menjauhkan masyarakat dari kemaksiatan, menjadi penyambung pesan para ulama, serta mengabdikan diri untuk meraih rida Allah Swt.
“Semua kita adalah santri. Santri adalah pelopor kebaikan di mana pun berada. Lurah, pejabat, pegawai, semua adalah santri yang harus menjadi pelopor kebaikan di tengah masyarakat,” ujar Mulyono.
Ia juga menyampaikan bahwa kehadiran orang-orang yang senantiasa berbuat baik diharapkan dapat mencegah perbuatan maksiat di lingkungan sekitarnya.
“Di dalam hati yang membenci, apa pun kebaikan yang kita lakukan akan tetap dinilai jelek. Maka bersihkanlah hati, karena kebaikan hanya akan diterima dengan hati yang lapang,” pesannya.
Lebih lanjut, Mulyono mengajak seluruh aparatur dan masyarakat untuk meneladani semangat santri dalam pengabdian, yakni bersikap ikhlas, istiqamah, dan tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama dalam berbuat kebaikan.
Pengajian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Melalui kegiatan ini, peserta diajak menjadikan semangat Hari Santri sebagai inspirasi untuk terus menebarkan kebaikan, menjaga ketulusan niat, dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat. (cho/mel)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!