Gamelan Jawa Iringi Wisuda Kelas XII, Sarat Makna Filosofi Kehidupan

Kulon Progo (MAN 1 KP) — Prosesi wisuda kelas XII Madrasah Aliyah Negeri 1 Kulon Progo yang digelar pada Kamis (7/5/2026) di Taman Budaya Kulon Progo berlangsung khidmat dan sarat nilai budaya Jawa. Seluruh rangkaian acara diiringi gamelan Jawa yang tidak hanya menghadirkan suasana sakral, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang perjalanan hidup manusia.
Pembimbing Karawitan sekaligus Guru Sosiologi, Angga Dwi Kurnianto, S.Pd., menjelaskan bahwa setiap gending yang dimainkan dalam prosesi wisuda telah dipilih berdasarkan makna filosofis tertentu.
“Gamelan bukan sekadar bunyi-bunyian atau tontonan fisik semata, tetapi mengandung ajaran kehidupan yang luhur,” ujarnya.
Prosesi penyambutan tamu diawali dengan gending Lancaran Manyar Sewu yang melambangkan ribuan pasukan atau masyarakat berkumpul menyambut tamu undangan. Selanjutnya, para hadirin disuguhkan Ladrang Mijil Marganingtyas sebagai simbol kepasrahan total kepada Tuhan.
Iringan kemudian dilanjutkan dengan Ladrang Santri Mulya atau Sesantining Kamulyan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dalam meraih kemuliaan dan kesuksesan. Sementara itu, Ladrang Pangkur menjadi penutup sebelum acara inti dimulai sebagai pengingat bahwa pada akhirnya manusia harus meninggalkan hawa nafsu duniawi.
“Pangkur memiliki makna pengeling wayahe mungkur, yaitu mengingatkan manusia untuk meninggalkan sifat syaitoniyah, sabuiyah, dan lawwamah,” jelas Angga.
Acara wisuda dibuka dengan iringan Monggang, gending sakral yang biasa digunakan dalam suasana ritual penuh penghormatan. Di tengah acara, sambutan-sambutan diiringi Lancaran Bindri yang bernuansa tegas, khidmat, dan berwibawa layaknya mengantarkan seorang raja menyampaikan titah.
Sementara itu, puncak kirab dan prosesi wisuda diiringi Gending Ladrang Purna yang memiliki nuansa “waluya paripurna”, melambangkan kesucian lahir dan batin.
“Wisuda adalah tanda selesainya satu tahapan kehidupan dan kesiapan memasuki tahap yang lebih tinggi. Karena itu harus diawali dengan fisik, psikis, dan hati yang suci,” tambahnya.
Acara kemudian ditutup dengan Gangsaran, iringan gamelan bernuansa cepat dan gembira sebagai simbol rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar sesuai rencana.
Plt. Kepala Madrasah, Sihono Setyo Budi, S.Pd., M.Si., mengapresiasi penggunaan gamelan Jawa dalam prosesi wisuda tersebut. Menurutnya, perpaduan pendidikan dan budaya lokal menjadi bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik.
“Madrasah tidak hanya mendidik siswa dalam bidang akademik, tetapi juga menanamkan nilai budaya, adab, dan filosofi kehidupan. Gamelan menjadi media pembelajaran karakter yang sangat baik bagi generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, Akh. Khudlori, S.Ag., M.Pd.I., selaku waka humas menegaskan bahwa penggunaan gamelan Jawa dalam lingkungan madrasah tidak bertentangan dengan nilai akidah. Menurutnya, justru hal tersebut menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya sekaligus media pendidikan karakter.
“Yang harus dipahami bukan sekadar gamelan ditabuh, tetapi makna di balik bunyinya. Ada ‘ning’-nya kempul, ‘nong’-nya kenong, ‘nang’-nya bonang, ‘ndhang’-nya kendhang, hingga ‘gung’-nya gong. Semua harmoni itu menggambarkan perjalanan hidup manusia,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, manusia sejak awal kehidupan harus selalu “ning” atau ingat kepada Tuhan. Dalam perjalanan hidup, manusia bisa berada “nang kene” maupun “nong kana”, menghadapi berbagai hiruk pikuk kehidupan. Namun pada akhirnya, manusia akan kembali kepada Tuhan dengan harapan memperoleh husnul khatimah.
“Manusia lahir dalam keadaan fitrah. Apa pun cobaan selama hidup di dunia, pada akhirnya kita berharap kembali dengan husnul khatimah,” pungkasnya.
Sebagai penutup, prosesi wisuda tersebut tidak hanya menjadi momentum pelepasan siswa kelas XII menuju jenjang kehidupan berikutnya, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya dan penanaman nilai-nilai filosofi luhur Jawa kepada generasi muda. Harmoni gamelan yang mengalun sepanjang acara menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya membentuk kecerdasan intelektual, melainkan juga membangun karakter, spiritualitas, dan kebijaksanaan hidup. (akh)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!