Opor Buatan Ibu

Mita Kartikasari
Siswa MTsN 4 Kulon Progo
Langit pagi terlihat biru, cerah. Matahari memancarkan cahaya yang hangat, seolah tesenyum menyambut hari ini. Aroma bunga disekeliling menusuk hidung, wangi khas bunga mawar, sama seperti bunga yang sedang kugenggam. Hembusan angin sejuk perlahan mengayunkan baju baruku yang ku beli di pasar minggu lalu. Ku pandang sekeliling, ramai keluarga yang memakai baju baru pula. Suasana hari raya yang selalu istimewa bagiku.
Apalagi dengan opor buatan Ibu. Bumbunya yang harum selalu merayuku untuk pergi ke dapur, walau sedang menonton kartun favorit sekalipun.
“Ibu! Opornya sudah matang belum? Aku tidak sabar, nih!” tanyaku girang sambil menarik-narik baju ibu yang sedang serius mengaduk kuah opor.
“Belum, sayang. Lebih baik kamu menghabiskan kartunmu dulu,” kata ibu yang mungkin merasa terganggu dengan kedatanganku.
“Tidak mau! Aku mau menunggu disini,” aku bersikeras, dahiku mengkerut, mulutku mengerucut.
“Hihi,” Ibu terkekeh. Apa mungkin wajah anak usia lima tahun yang sedang marah terlihat lucu di mata orang dewasa?
“Kalau menunggu disini, nanti kamu kecipratan kuah opornya. Panas loh,” ucap ibu, sorot matanya penuh belas perasaan.
Aku menuruti kata ibu. Aku berjalan ke arah televisi dengan raut yang masih geram. Kembali ku tonton kartun dan berbaring nyaman di atas sofa.
“Talisha! Opornya sudah siap, nak!” terdengar panggilan dari suara yang amat ku kenal. Langsung ku bergegas ke dapur tanpa menghiraukan adegan seru di dalam kartun.
Ku lihat di meja makan sudah penuh dengan hidangan. Ada ketupat! Aku suka ketupat! Ada nastar! Manis sekali. Ada semur jengkol! Ew! tidak enak, aku tidak suka! Aku bingung kenapa ayahku bisa menyukainya. Ibu berjalan pelan sambil membawa sebuah mangkok besar berisi opor. Makanan yang ku nanti-nanti sudah matang!
Di meja makan itulah aku berkumpul bersama ibu dan ayahku. Menyantap dengan lahap bersama suasana fitri yang syahdu. Ayahku sangat menikmati semur jengkol yang membuat hidungku berkerut saat melihatnya. Daging opor yang berselimut kuah kuning itu terus membuatku tergoda. Sesuap nasi hangat dari tangan ibu bercampur dengan kuah opor yang gurih masuk ke mulutku. Enak sekali!Sudah sepuluh tahun aku tak menjumpai suasana itu. Aku kembali menatap batu bertuliskan nama ibu. Tangan kananku meraih bunga mawar dalam keranjang yang ku tenteng. Ku taburkan perlahan di atas pusara itu. Air mataku tak bisa terbendung. Nostalgia yang mengundang rindu dengan opor buatan ibu.
“Ibu, Talisha masih berharap di meja makan ada opor buatan ibu,” kataku sambil memeluk nisan, pipiku basah terbanjiri oleh air mata yang semakin deras.
“Talisha. Ayo pulang,” samar-samar terdengar suara ayah yang mengajakku pulang karena aku sudah terlalu lama di tempat ini. Penuh gegas ku usap air mata yang membuat wajahku merah.
“Selamat Hari Raya, ibu. Meski raga ibu sudah pergi, kasihnya masih terasa di hati Talisha.”



Great story ,girl.