Warisan Nyala Perempuan yang Tak Lagi Tertunduk

Khadijah Hanina Rasyidah
Siswa MTsN 3 Kulon Progo
Dulu, dunia menulis kami hanya sebagai pelengkap cerita,
Seolah suara perempuan tak pantas untuk didengar lagi,
Langkah kami dibatasi, mimpi dipatahkan tanpa sisa,
Hingga kau datang, membawa luka yang berubah jadi arti.
Raden Ajeng Kartini, kau melawan tanpa pedang, tanpa teriakan lantang,
Namun katamu lebih tajam dari belenggu yang menahan kami,
Kau retakkan sunyi yang selama ini terpasung panjang,
Dan mengajarkan bahwa kami layak berdiri
Kini kami bukan lagi bayang di balik cahaya orang lain.
Kami adalah suara yang tak lagi takut untuk berarti,
Meski dunia masih sering terasa kejam dan tak adil
Kami terus berjalan, walau jatuh, walau perih,
Ada tangis yang tak terlihat di balik senyum yang dipaksakan,
Ada lelah yang disembunyikan demi tetap kuat hari ini
Namun kami belajar dari luka yang dulu kau rasakan.
Bahwa bertahan adalah bentuk keberanian paling tinggi,
Kartini, perjuanganmu belum selesai, ia hidup dalam dada kami,
Dalam setiap mimpi yang hampir menyerah lalu bangkit kembali,
Kami tidak lagi diam, tidak lagi sekadar menanti
Karena kami adalah lanjutan dari keberanianmu hari ini.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!